Pengembangan Minuman Serbuk Instan Tinggi Protein dan Serat Berbasis Potensi Lokal Kombinasi Tempe dan Defatted Coconut Flour (DCF)
Pemenuhan asupan protein dan serat masih menjadi tantangan gizi di
Indonesia. Tempe dan defatted coconut flour (DCF) merupakan bahan
pangan lokal yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber protein dan
serat untuk mendukung pengembangan pangan fungsional. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi proporsi puree tempe
dan defatted coconut flour (DCF) terhadap karakteristik fisik, kimia,
dan sensori minuman serbuk instan yang dibuat menggunakan metode
foam mat drying. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap
(RAL) satu faktor dengan empat formulasi, yaitu F1 (40 g puree tempe
dan 8 g DCF); F2 (45 g puree tempe dan 6 g DCF); F3 (50 g puree
tempe dan 4 g DCF); F4 (55 g puree tempe dan 2 g DCF) dan dianalisis
menggunakan one way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
variasi proporsi puree tempe dan DCF tidak berpengaruh nyata
(p>0,05) terhadap kadar air, kelarutan, laju higroskopisitas, kadar
protein, dan uji hedonik parameter warna, tetapi berpengaruh nyata
(p<0,05) terhadap waktu rehidrasi, kadar serat pangan, kadar lemak,
serta uji hedonik parameter aroma, rasa, dan aftertaste. Peningkatan
proporsi puree tempe yang disertai penurunan DCF menghasilkan
waktu rehidrasi yang lebih cepat dan kadar lemak yang lebih rendah,
serta meningkatkan penerimaan panelis terhadap uji hedonik parameter
aroma, rasa, dan aftertaste. Formulasi F1 dan F2 memenuhi klaim
sumber protein dan tinggi serat, sedangkan formulasi F3 dan F4
memiliki tingkat penerimaan sensori yang lebih disukai panelis. Secara
keseluruhan, proporsi puree tempe dan DCF memengaruhi karakteristik
gizi dan sensori minuman serbuk instan yang dihasilkan.
URI
https://repo.itera.ac.id/depan/submission/SB2607070015
Keyword
Defatted Coconut Flour (DCF) minuman serbuk instan protein serat pangan tempe