Analisis Perubahan Garis Pantai Menggunakan Metode DSAS:Studi Kasus Pesisir Kota Bengkulu
Analisis perubahan garis pantai merupakan komponen penting dalam kajian dinamika pesisir, terutama pada wilayah yang terpapar energi gelombang tinggi seperti Pesisir Kota Bengkulu. Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa wilayah yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia cenderung mengalami abrasi signifikan akibat kuatnya longshore current, dominasi gelombang tinggi musiman, dan keterbatasan suplai sedimen (misalnya hasil-hasil penelitian di pesisir Selatan Jawa, Simeulue, dan Barat Sumatra). Di sisi lain, sejumlah studi juga menegaskan bahwa aktivitas manusia seperti reklamasi, pembangunan pelabuhan, groyne, dan breakwater menyebabkan perubahan pola transpor sedimen yang dapat mempercepat abrasi atau memicu akresi pada titik-titik tertentu. Metode yang digunakan adalah deskriptif-kuantitatif dengan pengolahan citra satelit Landsat tahun 2010, 2015, 2020, dan 2025 menggunakan perangkat lunak ArcGIS dan Digital Shoreline Analysis System (DSAS) untuk menghitung perubahan garis pantai dan laju abrasi. Selain itu, dilakukan observasi lapangan dan wawancara masyarakat untuk mengetahui dampak sosial dan lingkungan akibat abrasi.
Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan garis pantai di Pesisir Kota Bengkulu menggunakan metode Digital Shoreline Analysis System (DSAS) dengan memanfaatkan data garis pantai multitemporal dari citra satelit. DSAS digunakan karena telah terbukti efektif dalam banyak penelitian internasional dan nasional untuk menghitung laju perubahan garis pantai secara kuantitatif melalui metode End Point Rate (EPR), Linear Regression Rate (LRR), dan Net Shoreline Movement (NSM). Sejumlah publikasi sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan LRR lebih stabil untuk data multitemporal, sedangkan EPR efektif untuk periode awal–akhir tertentu, dan NSM memberikan gambaran perpindahan absolut garis pantai.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa segmen pesisir Bengkulu mengalami abrasi signifikan, terutama di wilayah yang terekspos langsung energi gelombang dan dekat dengan muara sungai, yang konsisten dengan pola yang sering ditemukan dalam penelitian-penelitian mengenai pesisir energik Samudera Hindia. Sebaliknya, beberapa area mengalami akresi akibat suplai sedimen fluvial dan modifikasi pola arus oleh struktur pantai. Secara keseluruhan, perubahan garis pantai di Pesisir Kota Bengkulu bersifat spasial dan temporal, dengan variabilitas dipengaruhi oleh proses oseanografi, morfodinamika pantai, serta aktivitas manusia. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan wilayah pesisir berbasis data jangka panjang untuk meminimalkan risiko kerusakan lingkungan dan dampak sosial–ekonomi di sepanjang pesisir Kota Bengkulu.
URI
https://repo.itera.ac.id/depan/submission/SB2609180086
Keyword
Perubahan garis pantai DSAS NSM NSM LRR