Kanker serviks menjadi penyebab utama kematian paling tinggi yang terjadi pada wanita. Pengobatan konvensional seperti kemoterapi, radioterapi, dan pembedahan dapat menimbulkan berbagai efek samping seperti rambut rontok, mual, dan kelelahan, sehingga diperlukan alternatif berbasis bahan alam. Temu putih (Curcuma sp.) mengandung metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antikanker. Penelitian ini bertujuan mengisolasi, mengidentifikasi, dan menguji aktivitas biologis metabolit sekunder rimpang temu putih sebagai kandidat antikanker. Ekstraksi dilakukan dengan maserasi menggunakan metanol, etil asetat, dan n-heksana. Uji fitokimia menunjukkan adanya alkaloid, flavonoid, terpenoid, tanin, dan saponin. Aktivitas antioksidan menunjukkan nilai IC₅₀ masing-masing ekstrak yaitu 79,286, 82,217, dan 94,135 ppm yang tergolong kuat. Ekstrak etil asetat kemudian difraksinasi dengan kromatografi cair vakum dan dimurnikan menggunakan kromatografi kolom gravitasi. Isolat murni dilakukan uji sistem tiga eluen dan uji titik leleh sebesar 145,2–146,5℃. Uji fitokimia posistif menghasilkan senyawa terpenoid. Analisis struktur menggunakan spektroskopi UV-Vis dengan λmax= 288 nm menunjukkan transisi elektron n→π*. Analisis spektroskopi FT-IR menghasilkan puncak serapan di 3385,61 (O-H), 2925,73 (C-H) sp3, 2868,58 (C-H) sp3, 1725,20 (C=O), 1639,80 (C=C), 1449,74 (C-H), 1374,58 (C-H), 1280,57–1047,46 (C-O), dan 961,96–576,32 (fingerprint). Berdasarkan karakterisasi titik leleh, UV-Vis, FT-IR, serta perbandingan dengan literatur, isolat 4a5 disarankan merupakan senyawa procurcumenol. Aktivitas isolat terhadap sel HeLa dikategorikan moderat dengan nilai IC50 = 28,616 μg/mL.
URI
https://repo.itera.ac.id/depan/submission/SB2609100010
Keyword
isolasi senyawa metabolit sekunder karakterisasi temu putih sitotoksik HeLa