Pengaruh Boreal Summer Intraseasonal Oscillation (BSISO) terhadap Variabilitas Curah Hujan di Wilayah Maritim Indonesia: Studi Kasus Kemarau Basah 1981–2015
Wilayah maritim Indonesia memiliki variabilitas curah hujan
tinggi akibat dinamika atmosfer tropis. Salah satu fenomena yang
berkontribusi terhadap dinamika tersebut adalah Boreal Summer
Intraseasonal Oscillation (BSISO), yang memodulasi curah hujan
selama musim panas Asia (April–Oktober), yang bertepatan dengan
musim kemarau Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis
karakteristik BSISO di wilayah maritim Indonesia menggunakan
data indeks BSISO dari APCC, angin 850 hPa dari ERA5, dan
Outgoing Longwave Radiation (OLR) dari NOAA. Respons spasial
dan temporal curah hujan terhadap BSISO serta pengaruhnya terhadap
kejadian kemarau basah dianalisis menggunakan data curah hujan
dari APHRODITE, angin 850 hPa, OLR, Total Column Water Vapor
(TCWV), dan Vertical Integrated Water Vapor Flux (VIWVF) dari
ERA5 periode 1981–2015. BSISO terdiri atas dua mode, yaitu
BSISO1 dan BSISO2, yang memiliki karakteristik propagasi konveksi
berbeda. BSISO1 lebih dominan pada pertengahan hingga akhir musim
panas Asia (Juli–September), sedangkan BSISO2 lebih dominan pada
awal musim panas Asia (April–Juni). Pada kondisi aktif (amplitudo
> 1), BSISO berasosiasi dengan peningkatan curah hujan sekitar
2–3 mm/hari, disertai anomali negatif (penurunan) OLR sekitar
20–30 W/m2 yang menunjukkan peningkatan aktivitas konveksi, serta
peningkatan uap air. BSISO berperan dalam memodulasi curah hujan
dan berkontribusi terhadap kejadian kemarau basah di wilayah maritim
Indonesia. Pola ini konsisten pada kemarau basah tahun 1995, 1996,
1998, 2010, dan 2013. Namun, pada tahun 1998 dan 2010, peningkatan
curah hujan tidak hanya dipengaruhi BSISO, tetapi juga diperkuat La
Niña yang meningkatkan pasokan uap air ke wilayah Indonesia
URI
https://repo.itera.ac.id/depan/submission/SB2609020054
Keyword
BSISO curah hujan kemarau basah musiman