Studi Komparasi Perekat Molase pada Produk Biobriket Kulit Durian dan Tempurung Kelapa Ditinjau dari Karakterisitk dan Kinerja Lingkungan
Ketergantungan Indonesia pada bahan bakar fosil mendorong pemanfaatan limbah biomassa kulit durian dan tempurung kelapa sebagai biobriket energi terbarukan dengan perekat molase sebagai alternatif berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik mutu, mengevaluasi pengaruh variasi tekanan cetak, serta membandingkan kinerja lingkungan produksi biobriket perekat molase dan tapioka menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA). Metode penelitian bersifat eksperimental dan kuantitatif deskriptif, dengan komposisi bahan baku 50:50 dan variasi tekanan cetak 100, 150, 200 kg/cm². Pengujian mutu mengacu pada SNI 01-6235-2000 dan ASTM D 440-86 R02, penentuan tekanan terbaik menggunakan Simple Additive Weighting (SAW), sedangkan analisis LCA menggunakan openLCA dengan metode CML-IA Baseline dan IPCC 2013, batasan sistem gate to grave dan unit fungsi 1 MJ energi panas. Hasil menunjukkan kadar air pada tekanan 100, 150, 200 kg/cm² sebesar 8,31%, 7,00%, dan 5,50%, sedangkan kadar abu sebesar 5,67%, 5,33%, dan 5,67%, seluruhnya di bawah batas maksimum 8%, kecuali kadar air tekanan 100 kg/cm². Nilai kalor sebesar 5944,7; 5897,0; dan 5951,6 kal/gram, sedangkan kadar zat terbang belum memenuhi standar. Tekanan 200 kg/cm² terpilih sebagai kondisi terbaik dengan densitas 0,97 gram/cm³, laju pembakaran 0,34 gram/menit, dan droptest 5,25%. LCA menunjukkan sistem perekat tapioka menghasilkan dampak lingkungan lebih rendah dibandingkan molase, dengan karbonisasi dan pembakaran sebagai kontributor terbesar.
URI
https://repo.itera.ac.id/depan/submission/SB2608210019
Keyword
Biobriket Kulit Durian Life Cycle Assessment (LCA) Simple Additive Weighting (SAW) Tempurung Kelapa.