IDENTIFIKASI BAHAYA KEKERINGAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus: Provinsi Lampung)
Kekeringan merupakan salah satu bencana yang terjadi secara perlahan dan berdampak luas terhadap sektor pertanian, ekonomi, sosial dan kesehatan. Provinsi Lampung tercatat sebagai wilayah dengan tingkat bahaya kekeringan yang beragam, di mana kekeringan menempati urutan ketiga bencana yang paling sering terjadi setelah bencana banjir dan cuaca ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran bahaya kekeringan di Provinsi Lampung serta membandingkan hasil pemetaan dengan data bahaya kekeringan pada Kajian Risiko Bencana (KRB) Provinsi Lampung. Penelitian menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis dengan metode overlay dan skoring. Adapun data yang di gunakan meliputi curah hujan yang bersumber dari CHIRPS tahun 1996 – 2025, jenis tanah yang bersumber dari SoilGrids (ISRIC), tutupan lahan yang bersumber dari ESA WorldCover 2021 dan kemiringan lereng yang bersumber dari DEMNAS. Setiap parameter diklasifikasikan dan diberi skor sesuai tingkat pengaruhnya terhadap kekeringan. Hasil penelitian menunjukan bahwa bahaya kekeringan di Provinsi Lampung terbagi ke dalam tiga kelas. Kelas bahaya rendah mendominasi dengan luas 1.745.203,51 ha, wilayah dengan luas terbesar berada di Kabupaten Tulang Bawang. Kelas bahaya sedang mencakup 1.571.989,14 ha, wilayah dengan luas terbesar berada di Kabupaten Tanggamus. Sementara itu, kelas bahaya tinggi hanya seluas 4.935,49 ha, dengan luasan terbesar berada di Kabupaten Lampung Selatan. Perbandingan dengan data KRB menunjukkan sembilan kabupaten/kota memiliki klasifikasi yang sama, sementara enam wilayah lainnya berbeda akibat perbedaan metode dan parameter yang digunakan.
URI
https://repo.itera.ac.id/depan/submission/SB2607030016
Keyword
Kekeringan Sistem Informasi Geografis Overlay dan Skoring Provinsi Lampung