Analisis Kerentanan Bangunan terhadap Potensi Tsunami Berdasarkan Taksonomi dan Tingkat Keterpaparan (Studi Kasus Kecamatan Krui Selatan)
Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung merupakan wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan dekat dengan zona subduksi Sunda Megathrust, sehingga memiliki kerawanan tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami dengan estimasi run-up mencapai 10 meter. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerentanan bangunan akibat potensi tsunami, menghitung nilai keterpaparan taksonomi bangunan, serta merencanakan jalur evakuasi sebagai upaya mitigasi bencana. Metode penelitian menggunakan Taksonomi bangunan berbasis Global Earthquake Model (GEM) yang mengklasifikasikan bangunan menjadi Concrete Reinforced (CR), Masonry Confined Frame (MCF), dan Wood (W). Pemodelan bahaya tsunami dilakukan menggunakan modul Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sedangkan analisis keterpaparan mengacu pada Peraturan Menteri PUPR Nomor 22/PRT/M/2018. Data bangunan diperoleh melalui Google Street View dan analisis citra spasial, kemudian diolah menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Perencanaan jalur evakuasi mengacu pada SNI 7766:2012 dan Peraturan BNPB Nomor 7 Tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 5.509 bangunan yang teridentifikasi, tipe MCF mendominasi sebanyak 4.274 unit (77,6%), diikuti tipe W sebanyak 1.108 unit (20,1%), dan tipe CR sebanyak 127 unit (2,3%). Bangunan tipe kayu (W) memiliki tingkat kerentanan tertinggi terhadap tsunami, diikuti MCF dan CR. Enam desa berada pada kelas bahaya tinggi, yaitu Balai Kencana, Lintik, Mandiri Sejati, Padang Haluan, Walur, dan Way Napal. Analisis keterpaparan menunjukkan total nilai keterpaparan bangunan mencapai Rp3,17 triliun, dengan nilai tertinggi pada Desa Balai Kencana sebesar Rp546,22 miliar (17,3%), diikuti Desa Lintik Rp429,09 miliar (13,6%), dan Desa Walur Rp407,23 miliar (12,9%). Perencanaan jalur evakuasi menghasilkan 36 jalur evakuasi dengan jarak tempuh berkisar 769,73 - 6.541,61 meter dan waktu tempuh 17 -145 menit. Akurasi peta bahaya tsunami yang dihasilkan divalidasi menggunakan data historis kejadian tsunami di wilayah pesisir barat Lampung. Hasil penelitian diharapkan menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam mitigasi tsunami, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, dan perencanaan wilayah pesisir yang lebih tangguh.
URI
https://repo.itera.ac.id/depan/submission/SB2606230078
Keyword
kerentanan bangunan tsunami taksonomi keterpaparan jalur evakuasi