REDESAIN TAMAN BUDAYA LAMPUNG DENGAN TEMA ARSITEKTUR BIOFILIK
Taman Budaya Lampung yang berdiri sejak 1984 di pusat Kota Bandar Lampung merupakan UPTD di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang berfungsi sebagai pusat pelestarian dan pengembangan seni budaya daerah. Kawasan seluas 1,44 hektar ini mengalami krisis identitas dengan dominasi perkerasan, minimnya ruang hijau, keusangan fisik dan fungsional bangunan, serta absennya ruang publik terbuka yang aktif menjadikan "taman" dalam namanya tidak lagi mencerminkan realitas kawasan. Perancangan ini merespons permasalahan tersebut melalui pendekatan Arsitektur Biofilik yang mengacu pada 13 Pola Desain Biofilik sebagai strategi berbasis bukti ilmiah untuk mengintegrasikan alam ke dalam lingkungan binaan. Pendekatan biofilik diimplementasikan melalui strategi split-level organis yang responsif terhadap topografi miring ±12 meter, greenroof publik pada atap gedung pameran dan perpustakaan, courtyard terbuka pada area baca perpustakaan, serta fasad panel Glass Reinforced Concrete dan kayu yang diturunkan dari transformasi visual Gamolan Pekhing. Hasil akhir perancangan adalah kawasan taman budaya yang memulihkan karakter ekologis dan sosial TBL dengan ruang publik hijau sebagai pusat aktivitas yang dapat diakses sepanjang hari, dan massa bangunan yang terintegrasi dengan lanskap.
URI
https://repo.itera.ac.id/depan/submission/SB2606220050
Keyword
arsitektur biofilik Integrasi bangunan dan alam redesain taman budaya lampung