Kulit berfungsi sebagai pelindung tubuh, tetapi dapat mengalami penyumbatan sebum. Jerawat (acne vulgaris) dipicu oleh bakteri Cutibacterium acnes, serta dapat diatasi dengan obat jerawat sintesis. Penggunaan obat jerawat sintesis dapat menimbulkan efek samping seperti iritasi dan resistensi bakteri, sehingga daun sungkai (Peronema sp.) dimanfaatkan sebagai alternatif alami yang digunakan masyarakat untuk berbagai pengobatan tradisional. Daun sungkai mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri terhadap C. acnes. Ekstraksi daun sungkai dilakukan dengan tiga pelarut, yaitu metanol, etil asetat, dan n-heksana, masing-masing ekstrak diuji secara kualitatif menggunakan reagen fitokimia, ekstrak mengandung flavonoid, steroid/terpenoid, dan fenolik dengan rendemen metanol 9,198% (b/b), etil asetat 4,395% (b/b), dan n-heksana 1,479% (b/b), serta aktivitas antibakteri terbaik pada ekstrak metanol sebesar 14,233 ± 0,678 mm, sedangkan pemisahan dan pemurnian menggunakan KLT, KCV, dan KKG menghasilkan isolat F4.5.1.3.2.1 sebanyak 8,6 mg yang positif terpenoid dengan titik leleh 141,2°C–142,4°C. Uji UV-Vis menunjukkan adanya gugus karbonil dan ikatan rangkap terkonjugasi dengan λmaks 336 nm akibat transisi elektronik π→π* dan n→π*, serta spektrum FTIR pada bilangan gelombang 3427,51 cm⁻¹ (-OH), 3026,31 C=C-H, 2935,66–2855,76 cm⁻¹ (-C-H), 1712,79– 1705,20 cm⁻¹ (-C=O), 1666,49-1598,98 cm⁻¹ (C=C), 1462,04–1377,17 cm⁻¹ (-C-H), 1327,02 –1052,11 cm⁻¹ (-C-O) yang disarankan adalah senyawa diterpenoid jenis peronemin D1 serta uji aktivitas antibakteri sangat kuat sebesar 25,48 ± 0,401 mm.
URI
https://repo.itera.ac.id/depan/submission/SB2606200051
Keyword
Peronema sp. Fitokimia Aantibakteri Cutibacterium acnes Acne vulgaris