Analisis Perubahan Garis Pantai Dengan Metode Digital Shoreline Analysis System (Dsas) Dan Potensi Ancaman Gelombang Ekstrem Dan Abrasi Di Kabupaten Pesisir Barat Lampung
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan garis pantai serta memetakan potensi bahaya gelombang ekstrem dan abrasi di wilayah pesisir Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Data yang digunakan meliputi citra satelit Landsat 7 ETM+ dan Landsat 8 OLI tahun 2004–2024, data pasang surut, data DEM, serta data tracking garis pantai hasil digitasi manual. Analisis perubahan garis pantai dilakukan menggunakan metode Digital Shoreline Analysis System (DSAS) dengan pendekatan Net Shoreline Movement (NSM) dan End Point Rate (EPR). Pemetaan bahaya Gelombang Ekstrem dan Abrasi (GEA) mengacu pada pedoman BNPB dengan mempertimbangkan lima parameter: tinggi gelombang, kecepatan arus, tipologi pantai, tutupan vegetasi, dan bentuk garis pantai. Hasil penelitian menunjukkan perubahan garis pantai yang signifikan selama 20 tahun terakhir, dengan kecenderungan abrasi terjadi hampir di seluruh wilayah pesisir, terutama di Pesisir Utara, Krui Selatan, Pesisir Selatan, dan Bengkunat Belimbing. Nilai abrasi tertinggi tercatat pada tahun 2005–2006 di Bengkunat Belimbing dengan NSM -248,9 meter, sedangkan akresi tertinggi terjadi pada tahun 2015–2016 di transek 1366 wilayah yang sama dengan NSM 348,34 meter dan EPR 397,29 meter/tahun. Peta bahaya GEA menunjukkan bahwa wilayah Ngambur dan Bengkunat termasuk dalam kategori bahaya sedang, sedangkan wilayah pesisir lainnya masuk dalam kategori bahaya tinggi.
URI
https://repo.itera.ac.id/depan/submission/SB2602190062
Keyword
Perubahan Garis Pantai DSAS Gelombang Ekstrem Abrasi Pesisir Barat Lampunng