(0721) 8030188    pusat@itera.ac.id   

KAJIAN TINGKAT KERENTANAN KEKERINGAN KAWASAN PERTANIAN PANGAN DI KECAMATAN PALAS


Menurut (BAKORNAS PB, 2007) fenomena ENSO (El-Nino Southern Oscillation) disebabkan oleh perubahan iklim yang berkaitan - erat dengan penyebab kekeringan yang terjadi di Indonesia dilihat dari data historis. Sektor pertanian terutama tanaman pangan sangat tergantung pada kondisi iklim karena tanaman pangan umumnya tanaman semusim yang berkaitan dengan kelebihan atau kekurangan air. Kecamatan Palas merupakan salah satu kecamatan yang memiliki peluang cukup besar terjadinya kekeringan, karena kecamatan ini merupakan salah satu kecamatan yang memiliki luasan tutupan lahan pertanian berupa areal persawahan terbesar di Kabupaten Lampung Selatan, yaitu sebesar 7.771,84 Ha (Badan Informasi Geospasial). Jenis sawah di Kecamatan Palas merupakan sawah tadah hujan dengan tidak didukung jaringan pengairan akan menyebabkan wilayah tersebut lebih rentan terjadi kekeringan. Tujuan studi ini adalah untuk mengkaji tingkat kerentanan bencana kekeringan pada kawasan pertanian pangan di Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, maka dirumuskan sasaran sebagai berikut: (1)Mengidentifikasi kerentanan bencana kekeringan dari dimensi sosial pada kawasan pertanian pangan di Kecamatan Palas, (2)Mengidentifikasi kerentanan bencana kekeringan dari dimensi ekonomi pada kawasan pertanian pangan di Kecamatan Palas, (3)Mengidentifikasi kerentanan bencana kekeringan dari dimensi fisik pada kawasan pertanian pangan di Kecamatan Palas, (4)Mengidentifikasi kerentanan bencana kekeringan dari dimensi lingkungan pada kawasan pertanian pangan di Kecamatan Palas. Metode pendekatan studi yang digunakan adalah pembobotan, skoring, dan reclass yang kemudian digambarkan secara spasial berdasarkan Perka BNPB No. 2 Tahun 2012 dengan perubahan untuk mengetahui tingkat kerentanan bencana kekeringan. Analisis yang dilakukan adalah skoring dari nilai indikator setiap dimensi, melakukan overlay penilaian hasil dari skoring dikalikan dengan bobot berdasarkan pengaruh kerentanan yang ditimbulkan, sehingga didapatkan nilai indeks tingkat kerentanan bencana kekeringan yang dijelaskan berdasarkan kelas rendah, sedang dan tinggi serta digambarkan secara spasial per administratif desa. Penelitian ini menemukan bahawa indeks tingkat kerentanan bencana kekeringan kelas sedang merupakan kelas yang mendominasi terdapat di 17 desa, kelas tinggi terdapat di Desa Bumi Daya, Bali Agung, dan Mekar Mukya, dan terdapat kelas rendah berada di Desa Palas Aji. Desa dengan kelas tinggi didorong oleh faktor kerentanan sosial yang tinggi seperti jumlah penduduk, rasio kelompok umur, rasio kemiskinan, dan rasio pendidikan terakhir penduduk. Faktor kerentanan ekonomi yang tinggi seperti luas areal pertanian dan rasio mata pencaharian. Faktor kerentanan fisik yang tinggi seperti sumber air dan infrastruktur pengairan sehingga wilayah tersebut berada pada wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan.

Publisher


URI
http://repo.itera.ac.id/depan/submission/SB2108160027

Collection
Perencanaan Wilayah dan Kota