(0721) 8030188    pusat@itera.ac.id   

Perbandingan Penerapan Konsep Smart City Indonesia: Kasus Kota Bandung dan Kota Surabaya


Konsep smart city dapat menjadi suatu solusi permasalahan perkotaan seperti masalah kemacetan, polusi, dan kesulitan akan akses pelayanan publik. Konsep smart city juga dapat mendorong penciptaan ruang yang manusiawi yaitu ruang yang dapat memberikan suasana untuk mendorong potensi manusia dalam memperoleh pendidikan, berkreasi, berinteraksi, dan berinovasi. Konsep smart city sendiri dapat memberikan manfaat dari segi keruangan seperti adanya website Gistaru dan manfaat sosial seperti program Layad Rawat. Pentingnya konsep smart city juga ditunjukkan dengan mulai banyaknya kota-kota di Indonesia yang menerapkan konsep smart city. Terlebih dengan adanya Gerakan Menuju 100 Smart City yang dicanangkan Kemkominfo. Namun, pada penerapannya kota-kota di Indonesia masih memiliki perbedaan, sehingga hasil yang diperoleh juga berbeda. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan untuk mempelajari perbandingan keberhasilan orientasi pembangunan dalam penerapan konsep smart city. Dalam hal ini, fokus lokasi studi adalah Kota Bandung dan Kota Surabaya karena merupakan dua kota besar di Indonesia yang diharapkan dapat memberikan contoh bagi kota-kota lainnya di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh keberhasilan orientasi pembangunan konsep smart city di Indonesia dari kasus Kota Bandung dan Kota Surabaya. Karena perjalanan smart city yang belum panjang di Indonesia, maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan rasionalistik dengan metode induktif-kualitatif-content analysis. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah tiga konsep dan satu grand konsep. Konsep pertama yaitu Kota Surabaya dengan Human Oriented dan Kota Bandung dengan Technology Oriented dalam Membangun Smart City; Konsep kedua yaitu Pemanfaatan Program dan Pelayanan Publik Sebagai Bentuk Keberhasilan Perwujudan Smart City; dan Konsep ketiga yaitu Perhatian Kepala Daerah Terhadap Perbaikan Kualitas Lingkungan Sebagai Bentuk Awal Kesiapan Menghadapi Smart City. Ketiga konsep tersebut kemudian menghasilkan Grand Konsep yaitu Keberhasilan Pembangunan dan Perwujudan Smart City Sebab Orientasi Pembangunan Yang Berfokus Pada Manusia Mengakibatkan Adanya Kemampuan, Kepedulian, dan Aktifnya Masyarakat. Penelitian ini menemukan bahwa orientasi pembangunan yang berfokus kepada manusia dan/atau masyarakatnya menjadi kunci keberhasilan dalam penerapan smart city. Hal ini dikarenakan masyarakat sebagai penerima manfaat dan juga dapat berpartisipasi dalam mendukung perwujudan smart city. Dari kedua lokasi studi, didapatkan perbandingan dimana Kota Surabaya dapat dikatakan telah berhasil dari Kota Bandung dengan penerapan smart citynya karena orientasi pembangunannya yang telah terfokus kepada masyarakat Kota Surabaya. Sementara, Kota Bandung dapat dikatakan belum seberhasil Kota Surabaya karena belum didukung dengan pembangunan manusia dan/atau masyarakatnya, sehingga banyak pelayanan dan kebijakan yang belum termanfaatkan akibat belum sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya serta masih minimnya partisipasi aktif dari masyarakatnya. Hal ini dikarenakan orientasi pembangunan Kota Bandung sendiri masih terfokus kepada kesiapan pemerintahannya dan belum sampai pada pembangunan manusia dan/atau masyarakatnya.

Publisher


URI
http://repo.itera.ac.id/depan/submission/SB2101270064

Collection
Perencanaan Wilayah dan Kota