(0721) 8030188    pusat@itera.ac.id   

Analisis Struktur Sesar Dan Pemodelan Pada Daerah Lampung Bagian Selatan Menggunakan Metode Gayaberat


Daerah Lampung mempunyai sifat kegempaan (seismisitas) yang aktif dikarenakan adanya sesar-sesar. Metode Gayaberat merupakan metode yang sangat peka terhadap perubaban ke arah lateral maupun vertikal, oleh karena itu metode ini sering digunakan untuk mempelajari struktur geologi, batuan dasar, intrusi batuan, cekungan sedimen, endapan sungai purba dan lain-lain. Identifikasi sesar menggunakan data Gayaberat berupa peta anomali Bouguer Kotaagung danTanjungkarang. Identifikasi sesar daerah penelitian ini merupakan daerah Lampung bagian Selatan. Analisis struktur sesar menggunakan metode Second Vertical Derivative operator Elkins (1951) mendapatkan bahwa terdapat kecocokan dengan peta geologi nya, dimana arah delineasi struktur sesar pada peta geologi yang sudah ada yaitu dominan berarah dari Barat Laut – Tenggara Dan beberapa yang berarah Timur Laut – Barat Daya daerah penelitian. Untuk mendapatkan struktur bawah permukaan menggunakan pemodelan forward dan inverse modeling pada anomali Bouguer Residual hasil filter Moving Averange. Hasil yang didapat anomali Bouguer berkisar antara 2 - 116 mGal, anomali residual berkisar antara -30 mGal sampai +22 mGal dan anomali residual Second Vertical Derrivative (SVD) berkisar antara -9 mGal/m² sampai +7 mGal/m². Lintasan A-A’ dan B-B’ Forward Modeling dengan arah relatif Timur Laut – Barat Daya dan Barat Daya –Timur Laut . Dimana batuan paling atas dengan densitas 2,5 gr/cc diinterpretasikan sebagai Batuan Gunungapi Kuarter Muda (Qhv) yang terdiri dari breksi, lava dan tuf bersusunan andesit basal dengan ketebalan lapisan 2080 m. Batuan Gunungapi Kuarter Muda termasuk kedalam Lajur Bukit Barisan. Kemudian Formasi Lampung (QTI) umur Kuarter umumnya berupa tuf berbatuapung, tuf riolitik, batulempung tufan dan batupasir tufan . Formasi Lampung termasuk kedalam Lajur Bukit Barisan memiliki densitas 2,4 gr/cc ketebalan lapisan berkisar 1705 m. Dibawah Formasi Lampung di interpretasikan sebagai Formasi Hulusimpang (Tomh) dengan nilai densitas 2,6 gr/cc umumnya berupa lava andesit basal, tuf dan breksi gunung api terubah dengan batugamping, dengan ketebalan lapisan 1000 m. Formasi Hulusimpang termasuk kedalam Lajur Bukit Barisan. Kemudian lapisan bagian bawah memiliki nilai densitas tinggi sebesar 2,6 gr/cc berupa satuan Kompleks Gunung Kasih (Pzg) terdiri dari batuan metamorf dengan ketebalan 905 m. Kata Kunci : Gayaberat, anomali bouguer, forward modeling, inverse modeling.

Publisher


URI
http://repo.itera.ac.id/depan/submission/SB2009150020

Collection
Teknik Geofisika